Langsung ke konten utama

Kesederhanaan dan Cinta adalah Keutamaan Manusia

Karya: A'la Hikam

Di era milenial ini dan lebih tepat nya dengan hegomoni tekhnologi, kata sederhana dan cinta tidak lagi ada pada makna yang sesungguhnya. Banyak orang memahami kata sederhana sebagai kecukupan dalam melakukan atau memakai sesuatu. Sedangkan cinta dipahami hanya sebatas kesenangan semata terhadap sesuatu yang menarik pada diri kita. Lantas apa bedanya cinta dengan nafsu ?

Paham tersebut mengkaburkan makna yang ada di balik kata sederhana dan cinta. Sehingga pada paham tersebut banyak orang sadar tapi tidak menyadari sebenarnya apa itu kesederhanaan ? dan apa itu cinta ? dalam arti yang sesungguhnya.

Kesederhanan (iktidal)

Kesederhanaan adalah suatu sifat yang akan membawa kita terhadap kesadaran sebagai manusia dan sekaligus hamba. Untuk mencapai itu, pertama-tama kita harus bisa memenjarakan atau menahan kemauan manusiawi kita, dalam bahasa arabnya itu di katakan "iffah", juga kita harus mempunyai sifat "sajak" yang berarti kita berani keluar dari zona nyaman yang ada dalam kehidupan keseharian kita.

"Iffah" dan " sajak " adalah dua kata dalam satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan. Ibarat dua kaki yang saling beriringan untuk mencapai kesederhanaan. Semua orang mempunyai keinginan untuk melakukan kesenangan-kesenangan manusiawi nya, seperti memakan makanan yang enak bagi dirinya, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan ketidak stabilan bagi tubuh nya. Ketika manusia bisa menahan diri dari apa yang dia inginkan itu, disitulah manusia mencapai "iffah", bersamaan dengan itu "sajak" juga akan timbul karena dia sudah berani menahan sakit yang ada pada dirinya di karenakan keinginan nya tidak bisa terealisasikan.

Seseorang yang meloncat pada bara api karena di dalam kobaran itu ada sesuatu barang yang berharga, itu bukan "sajak" namanya tetapi setengah setres/gila. Ketika seseorang berambut panjang, berpakaian kotor, sampai menyakiti diri nya hanya semata-mata untuk menjaga hartanya itu bukan "iffah" tapi itu "bakhil". Ketika "iffah" dan "sajak" yang sudah di singgung di atas berada dalam diri manusia, maka manusia sudah ada pada posisi titik kesederhanaan.

Cinta (mahabbah)

Dalam cinta (mahabbah) seperti hal nya kesederhanaan juga ada dua sayap yang harus di kibarkan untuk mengetahui hakikat cinta itu yaitu adil dan hikmah. Pengertian dari adil sendiri yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan sesuatu kepada pemiliknya. Sedangkan hikmah ialah sesuatu yang menuntun pada kebenaran .
Mengapa saya mengatakan cinta tidak bisa terlepas dengan keadilan dan hikmah ?
Keadilan terhimpun di dalam nya kejujuran dan amanah (tanggung jawab). Ketika seseorang sudah bisa menyatakan sesuatu apa adanya (jujur) dan bertanggung jawab atas apa yang dia katakan (amanah), maka di situlah akan tumbuh benih-benih cinta, dikarenakan cinta itu telah tumbuh maka secara tidak bersamaan manusia itu akan menuntut diri nya pada kebenaran (hikmah). Maka nyatalah keadilan dan hikmah itu sebagai dua pilar yang menyokong pada manusia untuk memahami arti kata cinta. 

Sekarang pertanyaan nya dari manakah keadilan dan hikmah itu muncul ?
Sesuatu yang lebih halus dari pada hukum dan merupakan rahasia dari hati sanubari manusia itu lah hikmah. Adapun keadilan adalah timbangan keberanian seseorang terhadap sesuatu, maka lengkap lah sudah manusia yang adil akan menumbuhkan cinta. Dan dari cinta itu muncul kata hikmah yang oleh Socrates bapak dari pada filsuf-filsuf yunani berkata “hikmah adalah jauh pandangan, dalam pengertian, karena yang ditujunya bila dia memanah hati kebenaran”.

Keutamaan manusia.

Manusia sebagai makhluk yang mempunyai keutamaan dengan sifat kesederhanaan “ikthal” dan cinta “mahabbah” nya menjadi pelaku perubahan pada dunia ini. Kaum stoik membagi tugas pada diri manusia dengan dua bagian.1). Yang ada dalam jangkauan nya missal usaha dia untuk menentukan kehidupan keseharian nya.2). Yang ada di luar jangkauan nya seperti hasil dari akhir dari usaha yang iya buat itu bukan termasuk pada jangkauan tugas manusia. Itulah bentuk kesederhanaan “kesederhanaan” yang di ajukan oleh kaum stoik.

Kesederhanaan tidak akan lengkap rasa nya apabila tidak disertakan dengan kilauan-kilauan cinta “mahabbah”, Seperti kata Aristo salah satu filsfuf besar yunani mengatakan “dunia dan seisinya di gerakkan oleh eros cinta “mahabbah” ”. Karna kesederhanaan dan cintalah yang membuat manusia mempunyaui keutamaan di bumi ini.

Manusia yang sudah sadar akan keutamaan nya tentu akan berprilaku dengan budi pekerti yang baik, sopan dan santun, lembut dan halus tutur katanya, berpenampilan apa adanya tanpa ada rasa keluh kesah dalam hati sanubarinya. Ia akan menjalani cobaan dan rintangan yang ada dalam warna-warni kehidupan dengan lapang dada dan kesenangan dalam hati sanubarinya.

Komentar

  1. Semangat trus nulisnya bung🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih suportnya kawan. Barangkali temen" punya tulisan bisa dikirim ke kami, agar bisa saling belajar

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. artikel Anda sangat bagus dan memberikan inspirasi bagi pembaca untuk memprioritaskan kesederhanaan dan cinta dalam hidup mereka. Spirit!

    BalasHapus
  4. Jangan bosen mampir di blog kami ya kak 😁

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

John Dewey dan Ki Hajar Dewantara Dalam Melihat Pendidikan Indonesia

Karya : Muhammad A'lal Hikam Pendidikan dianggap sebagai cara paling ampuh untuk melatih makhluk berakal budi agar menemukan jati diri. Oleh karena itu negara punya peran vital untuk mendidik anak-anak bangsa melalui sistem pendidikan. "pendidikan sangat penting dalam rangka merubah dan membaharui masyarakat," itu kata Dewey. Tidak hanya Dewey, Ki Hajar Dewantara pun juga memerhatikan pendidikan negara kita yakni Indonesia. Di negara dengan penduduk paling banyak nomor empat di dunia ini pendidikan sangat penting dan diperhatikan oleh pemerintah dari masa ke masa. Mengingat 2 Mei 1984, H.M. Soeharto, sosok presiden kedua Indonesia kala itu memutuskan program wajib belajar selama enam tahun. Tepat di tahun 1998 keputusan tersebut berubah setelah disahkannya Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989 yang mewajibkan program belajar ditambah menjadi sembilan tahun. Ternyata kewajiban itu masih kurang, pemerintah kembali merencanakan ingin menambah tiga ta...

Renunganku

Karya:Ach. Iqfani Tanpamu.  Aku bisa apa,  jalanku tidak terarah, Hidupku terasa hampa.  Entahlah manusia Macam apa aku ini.  Terima kasih tuhan Engkau telah menghadirkan malam  Untuk tempat aku merenung,  memikirkan Segala kesalahan.  Dan pada akhirnya aku jatuh dan terperangkap dalam kandang kebaikan Terima kasih tuhan  engkau berkenan menghidayahkan jalan Seperti apa yang engkau firmankan dalam Al-Qur'an.