Langsung ke konten utama

Penabur Benih-Benih Ateisme (Tidak percaya akan adanya tuhan)

Karya : Muhammad A'lal Hikam

Ateisme adalah suatu kepercayaan akan tidak adanya apa yang mereka sebut sebagai Tuhan. Berbanding terbalik dengan Deisme. Deisme menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta, tetapi mereka tidak mengakui adanya agama, dikarenakan mereka lebih mempercayai pada akal dan kenyataan hidup.
Semenjak beribu-ribu bahkan berpuluhribu-ribu tahun manusia mencoba menemukan suatu keyakinan terhadap yang mereka percayai (Tuhan). Yunani kuno mempercayai bahwa Dewa-dewa(Tuhan) berada dalam segala sesuatu, dan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan.

Berbeda dengan keadaan di Eropa pada abad pertengahan. Seperti yang digambarkan oleh Alasdair Macintyre dalam bukunya yang berjudul, The Encylopedia of Philoshopy "Karena Tuhan sendiri yang benar-benar ada, maka apa yang ada itu adalah Tuhan atau setidak-tidaknya manifestasi dari Tuhan" (Panteisme personal).

Juga, ada manusia yang ketika ia ditanyakan, apakah kamu bertuhan? Atau tuhanmu itu siapa? Maka ia akan menjawab "tidak tahu". Ini yang diistilahkan dengan Agnosttisisme. Tak sampai disitu, bahkan ada manusia yang sampai pada keyakinan bahwa Tuhan itu adalah satu dan ia berbeda dengan yang lain, memiliki kehidupan dan alamnya sendiri (Monoteisme).

Pada Abad-19, lahir seorang bocah cerdik bernama lengkap Ludwig Andreas Freuebach pada tanggal 28 juni 1804 di Lanshud, Jerman. Freuebach nama sapaannya, adalah putra dari keluarga terhormat. Maka dari itu ia dicekoki untuk menjadi seorang teolog. 

Sedari kecil, ia mempelajari  masalah-masalah dalam keagamaan samapai pada umur 19 tahun. Karl Daub adalah guru dalam bidang teologi (protestan) yang sangat dikaguminya. Namun tragedi 1824 menjadikan pemuda cerdik oni mengalami pembalikan dalam pola pikirnya.

Tak lain adalah pengaruh Hegel (bapak Idealisme) yang sangat melekat , sampai ia menganggap Hegel adalah bapak keduanya. Dari pengaruh besar Hegel inilah ia yang awalnya bercita-cita ingin menjadi teolog berbubah menjadi failasuf.

Pada 1830 adalah awal ajang kontrovesi pemikiran Freuebach. Ia menerbitkan buku berjudul, Gedankenüber Tod und Unsterblichkeit/Thoughts on Death and Immortality  yang menafsirkan agama kristian sebagai agama yang egois dan tak berperi kemanusiaan. Akibatnya ia dipecat dari Fakultas tempat ia mengajar.

Petaka itupun berlanjut. Setelah ia menikahi Bertha Low seorang gadis kaya raya dan dianugrahu momongan bernama Methilde. Namun diumurnya yang ketiga tahun Mathilde harus berpisah dengan kedua orantuanya untuk selamanya.
 
Tak pelak lagi, Feuerbach sangat terpukul dengan kematian anaknya ini. Dalam suatu surat kepada E Knaap, tertanggal 3 November 1844 : Kuasa maut tampak sebagai sesuatu kekuasaan yang buta, dingin dan tak berperasaan. Ia sama sekali tak peduli, apakah yang terkena olehnya itu adalah orang terhormat atau bukan; ia sama seperti batu yang juga tidak peduli apakah ia jatuh menimpa sebatang balok atau seorang manusia. Dan, sang maut ini tidak sudi menunggu…hingga bakat dan kecakapan seseorang tumbuh dan berkembang terlebih dahulu. Tidak! Ia menginjak lumat kuntum bunga yang masih muda, jauh sebelum kuntum itu sempat mekar.

Dari berbagai permalahan yang ia hadapi, Freuebach semakin banyak menulis tentang agama dan filsafat. Ia berkolaborasi dengan Arnold Ruge seorang pengelola jurnal meakipun akhirnya kolaborasinya kandas, dan memilih membuat aliansi baru dengan Karl Marx.

Seperti yang disinggung diatas bahwa, Freuebach sangat dipengaruhi oleh Hegel. Namun ia menolak anggapan bahwa seorang teolog itu tidak bermakna, seperti oengikut Hegel sayap kiri lainnya seperti Marx.
Baginya, teologi sangat penting dan bermakna, namun pelu dipahami bukan sebagai ajaran tentang Tuhan, Allah atau Roh Absolut, Kesadaran, Ide dan Akal seperti yang dimaksud Hegel. Melainkan ajaran manusia di dunia yang rill. Menurutnya adalah pusat dari segala pusat, ia awal sekaligus akhir.

Kendati demikian, tidak serta merta menerima bangunan falsafat gurunya begitu saja, tetapi mencurigai bahwa gurunya itu memiliki misi rahasia dalam berfalsafat: membungkus teologi Kristianitas dengan baju falsafat.
Falsafah Aku (I) dan kamu (Thou).
Feuerbach, melihat manusia sebagai puncak dari keseluruhan proses alam dan mendefinisikan manusia sebagai esensi universal dari alam. ‘Akal budi,’‘cinta,’dan ‘kehendak hati’ yang mendorong penyatuan manusia dengan manusia lainnya untuk menjadi manusia (bangsa) yang istimewa dan tak terbatas, alias manusia sempurna.
Esensi manusia bermakna hanya di dalam komunitas, dalam penyatuan antara manusia dengan manusia lainnya—sebuah penyatuan yang hanya ditemukan dalam realitas perbedaan antara Aku dan Kau. Ujar Feuerbach. Bahkan ia mengatakan bahwa, Fislfat I dan Thou ini akan menggantikan posisi agama.

Individu memang dapat dan harus merasakan dan menyadari dirinya terbatas, oleh karena ketakterbatasan, bangsamanusia merupakan obyekbaginya. Individu manusia yang terbatas harus bersama (menjadi bangsa) sehingga akan mencapai ketidaktervatasan (sempurna).
Pengetahuan Si A tentang agama amatlah sedikit dibandingkan dengan pengetahuan bangsa manusia (yang di dalamnya termasuk para nabi, pendeta dll.) Maka dari itu manusia harus berkelompok (bangsa).

Feuerbach, menggantikan roh absolut Hegel dengan manusia. Dikarenakan manusia (bangsa) sudah sempurna dan tak terbatas, maka tak perlu adanya agama, bahkan tuhan sekaligus. Tuhan itu hanya sekedar proyeksi dari ketidak kuasaan manusia. Sehingga ia membayangkan hal yang maha segalanya. Bahkan agama nantik akan membuat manusia teralienasi karens berada di bawah bayang-bayang tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Tamyiz dan Bulugh

Karya : muhammad a'lal hikam Banyak orang salah memahami kata “Tamyiz” dan “Bulugh”. Seakan-akan dua kata itu sama. Padahal tak demikian. Tamyiz merupakan fase seseorang menuju bulugh, sedangkan Bulugh ialah fase terikatnya orang islam dengan hukum syara’. Mengutip dari kitab fiqh islami wa adillatuhu karya Wahba Az-Zuhaili bahwa tamyiz adalah sampainya anak pada umur 7 tahun yang ditandai dengan bisanya sang anak membedakan baik buruk, bermanfaat dan tidaknya sesuatu. Seperti makan sendiri, bisa bertransaksi jual beli dan lain sebagainya. Namun, mumayyiz (orang yang sudah tamyiz) masih dalam pengawasan orang tua atau orang dewasa. Dikarenakan masih tidak sempurna secara fisik dan akal. Adapun ketika  sudah sempurna akal dan fisiknya maka ia sudah berstatus bulugh. Adapun tanda-tanda baligh (orang yang sampai menyandang status bulugh) sebagai berikut: Ihtilam (mimpi basah) Syekh salim bin sumair dalam kitab safinatun najah mengatakan bahwa ihtilam merupakan tanda bag...

Renunganku

Karya:Ach. Iqfani Tanpamu.  Aku bisa apa,  jalanku tidak terarah, Hidupku terasa hampa.  Entahlah manusia Macam apa aku ini.  Terima kasih tuhan Engkau telah menghadirkan malam  Untuk tempat aku merenung,  memikirkan Segala kesalahan.  Dan pada akhirnya aku jatuh dan terperangkap dalam kandang kebaikan Terima kasih tuhan  engkau berkenan menghidayahkan jalan Seperti apa yang engkau firmankan dalam Al-Qur'an.                                                      

Ku kira....

 Karya: Ach. Iqfani Terdengar menyebutkan namamu  Berucap janji setia aku-pun percaya  Ujung-ujungnya malah berdusta. Rayuan suara manis nan indah Membuat diri ini terperdaya tak berdaya Aaah, ternyata malah membuat luka Menghancurkan semua rasa Seperti inilah manusia Menipu-pun dihiasi dengan nama Tuhannya Siapa lagi kalau bukan iblis sanadnya Lagi-lagi anak Adam tercinta korbannya  Mungkin semua alur ini  Tuhanlah yang menetapkannya  Atau karena kebodohan seorang hamba  Yang tidak bisa mengira-mengira Entah lah semua sudah terjadi Berharap pertolongan sang ilahi  Adalah pendorong hati  Agar tetap semangat diri ini.  Ya Robb padamulah kami berlindung.