Langsung ke konten utama

Ku kira....

 Karya: Ach. Iqfani

Terdengar menyebutkan namamu 
Berucap janji setia aku-pun percaya 
Ujung-ujungnya malah berdusta.

Rayuan suara manis nan indah
Membuat diri ini terperdaya tak berdaya
Aaah, ternyata malah membuat luka
Menghancurkan semua rasa

Seperti inilah manusia
Menipu-pun dihiasi dengan nama Tuhannya
Siapa lagi kalau bukan iblis sanadnya
Lagi-lagi anak Adam tercinta korbannya 

Mungkin semua alur ini 
Tuhanlah yang menetapkannya 
Atau karena kebodohan seorang hamba 
Yang tidak bisa mengira-mengira

Entah lah semua sudah terjadi
Berharap pertolongan sang ilahi 
Adalah pendorong hati 
Agar tetap semangat diri ini. 

Ya Robb padamulah kami berlindung.

                                                                           

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Tamyiz dan Bulugh

Karya : muhammad a'lal hikam Banyak orang salah memahami kata “Tamyiz” dan “Bulugh”. Seakan-akan dua kata itu sama. Padahal tak demikian. Tamyiz merupakan fase seseorang menuju bulugh, sedangkan Bulugh ialah fase terikatnya orang islam dengan hukum syara’. Mengutip dari kitab fiqh islami wa adillatuhu karya Wahba Az-Zuhaili bahwa tamyiz adalah sampainya anak pada umur 7 tahun yang ditandai dengan bisanya sang anak membedakan baik buruk, bermanfaat dan tidaknya sesuatu. Seperti makan sendiri, bisa bertransaksi jual beli dan lain sebagainya. Namun, mumayyiz (orang yang sudah tamyiz) masih dalam pengawasan orang tua atau orang dewasa. Dikarenakan masih tidak sempurna secara fisik dan akal. Adapun ketika  sudah sempurna akal dan fisiknya maka ia sudah berstatus bulugh. Adapun tanda-tanda baligh (orang yang sampai menyandang status bulugh) sebagai berikut: Ihtilam (mimpi basah) Syekh salim bin sumair dalam kitab safinatun najah mengatakan bahwa ihtilam merupakan tanda bag...

John Dewey dan Ki Hajar Dewantara Dalam Melihat Pendidikan Indonesia

Karya : Muhammad A'lal Hikam Pendidikan dianggap sebagai cara paling ampuh untuk melatih makhluk berakal budi agar menemukan jati diri. Oleh karena itu negara punya peran vital untuk mendidik anak-anak bangsa melalui sistem pendidikan. "pendidikan sangat penting dalam rangka merubah dan membaharui masyarakat," itu kata Dewey. Tidak hanya Dewey, Ki Hajar Dewantara pun juga memerhatikan pendidikan negara kita yakni Indonesia. Di negara dengan penduduk paling banyak nomor empat di dunia ini pendidikan sangat penting dan diperhatikan oleh pemerintah dari masa ke masa. Mengingat 2 Mei 1984, H.M. Soeharto, sosok presiden kedua Indonesia kala itu memutuskan program wajib belajar selama enam tahun. Tepat di tahun 1998 keputusan tersebut berubah setelah disahkannya Undang-Undang Pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989 yang mewajibkan program belajar ditambah menjadi sembilan tahun. Ternyata kewajiban itu masih kurang, pemerintah kembali merencanakan ingin menambah tiga ta...

Renunganku

Karya:Ach. Iqfani Tanpamu.  Aku bisa apa,  jalanku tidak terarah, Hidupku terasa hampa.  Entahlah manusia Macam apa aku ini.  Terima kasih tuhan Engkau telah menghadirkan malam  Untuk tempat aku merenung,  memikirkan Segala kesalahan.  Dan pada akhirnya aku jatuh dan terperangkap dalam kandang kebaikan Terima kasih tuhan  engkau berkenan menghidayahkan jalan Seperti apa yang engkau firmankan dalam Al-Qur'an.